Penjelasan Wadir Pelayanan dr Titie terkait Pasien Adang Kritis Mengalami Sesak Nafas Dibiarkan dan Tidak Dilakukan Tindakan di IGD RSUD Dr Soekardjo.

Kota Tasik, jerat86.com – Adang warga kelurahan Cilamajang mengalami sesak nafas. Keluarga Pasien merasa kecewa atas tidak dilayaninya keluarganya yang kritis karena mengalami sesak nafas namun tidak diberikan pelayanan oleh IGD RSUD Dr Soekardjo. Kejadian terjadi, Senin 28 Agustus 2023 lalu. 
Akhirnya Pukul 17.00 dibawa ke IGD RSUD Dr Soekardjo, namun bukanya dilayani Pasien tersebut hanya dibiarkan dan tidak dilakukan tindakan sama sekali. Karena Pasien terus kritis akhirnya dibawa ke Salah satu RS swasta yang ada di Kota Tasikmalaya, akhirnya disanalah Adang mendapatkan perawatan medis langsung. 
Namun, Tuhan berkehendak lain setelah dirawat secara intensif Adang meninggal pada 31 Agustus 2023 lalu. 
Agar tidak dilayaninya Pasien di RSUD Dr Soekardjo tidak terulang, keluarga pasien mendatangi Wakil Direktur Pelayanan Senin (04/09/2023) 
“saya menyampaikan permasalahan ini agar jnsiden tidak dilayani pasien Kegawatdaruratan di IGD RSUD Dr Soekardjo tidak terulang dan tidak dialami oleh masyarakat,” kata Hendrizal Keluarga Pasien kepada wartawan. 
Padahal Permenkes 47 tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan mencabut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 856/Menkes/SK/IX/2009 tentang Standar Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit.
“Disana sudah jelas terdapat penanganan Pasien Kegawatdaruratan, dengan Kriteria mengancam nyawa, membahayakan diri dan orang lain/lingkungan dan 
adanya gangguan pada jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi,” jelas Mahasiswa Institut Nahdlatul Ulama Tasikmalaya ini. 
Peraturan sudah jelas, namun sayang Rumah Sakit milik pemerintah seolah tidak mengindahkan, keluhnya. 
“Saya akan menyampaikan permasalahan ini kepada Pemangku Kebijakan, Seperti PJ Walikota, Sekda, dan DPRD Kota Tasikmalaya,” tandas Ketua Aliansi Pewarta Giat Tasikmalaya ini
Wadir Pelayanan RSUD Dr Soekardjo Dr. Titie Purwaningsari menyebut kalau di IGD masih kekurangan Regulator untuk membantu pernafasan 
“kekurangan alat dan jam segitu kebetulan banyak pasien, bukan masalah pasien berada di wilayah mananya, ada pasien yang ditolak dirumah sakit lain kita Terima namun kita tidak berani Terima pasien kalau alatnya tidak ada,” tuturnya
Lanjut dr Titie, Mungkin itu harus menunggu dulu dan mentransfer pasien ke ruangan kalau RS swasta kan ketika alat tidak ada langsung beli. “Nanti saya akan sampaikan agar tidak lagi terjadi seperti itu, konunikasikan kepada keluarga pasien secara langsung, Seperti kursi roda kurang, belangkarnya tidak ada regulatornya kurang itu mungkin yang harus disampaikan kepada keluarga pasien,”tandasnya. Jrt 01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *